Pernah merasa frustrasi karena website lambat saat diakses? Kecepatan website bukan hanya soal kenyamanan pengunjung, tetapi juga berpengaruh pada peringkat SEO dan tingkat konversi. Website yang responsif akan membuat pengunjung betah, sementara website lambat bisa membuat mereka langsung pergi. Kabar baiknya, ada banyak cara untuk mempercepat website, bahkan tanpa harus menjadi ahli teknis.
Kecepatan website adalah salah satu hal penting yang mempengaruhi pengalaman pengguna. Website perlu merespon dengan cepat terhadap tindakan pengguna. Hal ini dikarenakan keterlibatan pengguna sangat dipengaruhi oleh seberapa cepat website merespon tindakan mereka.
Misalnya, menunggu beberapa detik dalam suatu proses tertentu dapat menggagalkan pembelian di toko online, sehingga membuat calon pelanggan berubah pikiran. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui titik batas dari suatu sistem sehingga dapat dipastikan sistem memiliki fungsionalitas yang tepat.
Bagaimana Cara Website Bekerja?
Secara sederhana, website bekerja dengan dua komponen utama, yaitu Client dan Server. Client akan mengirimkan permintaan ke server, lalu server memproses permintaan tersebut, dan kemudian mengirimkan hasilnya kembali ke client untuk ditampilkan.
Penjelasan lebih lengkap cara kerja website dapat dibaca pada artikel berikut: Cara Website Bekerja.
Dengan memahami cara kerja website, dapat membantu Anda dalam mengidentifikasi potensi gangguan atau peningkatan latensi yang dapat menghambat kecepatan website Anda.
Ciri Website yang Lambat
Website dengan performa yang lambat memiliki ciri-ciri khusus yang mudah untuk dikenali. Berikut ini ciri-ciri utama website dengan performa lambat.
1. Waktu Muat Halaman Lebih dari 3 Detik
Jika halaman website memerlukan waktu lebih dari 3 detik untuk sepenuhnya terbuka, ini jelas merupakan tanda website lambat. Waktu tunggu yang terlalu lama akan membuat pengunjung website meninggalkan situs Anda.
2. Respon terhadap Interaksi Pengguna Lambat
Ketika pengguna mulai berinteraksi dengan website, misalnya mengklik dropdown atau tombol tertentu, tetapi respon website tidak secara instan muncul atau konten website yang muncul secara tersendat saat memulai. Hal ini menandakan bahwa kinerja website tidak optimal.
3. Tingkat Bounce Tinggi dan Engagement Rendah
Jika pengunjung website sudah meninggalkan situs sebelum menjelajah lebih dalam atau durasi kunjungan situs yang rendah, hal ini juga menunjukkan ciri website yang lambat.
Mengapa Kecepatan Website Sangat Penting?
Website yang lambat dapat membuat pengunjung merasa tidak nyaman dan meninggalkan website Anda sebelum menjelajah lebih dalam. Berikut beberapa alasan Anda harus mengutamakan kecepatan website:
1. Memberikan Pengalaman Pengguna yang Lebih Baik
Pengalaman pengguna didapatkan dari kesan pertama saat mengakses website. Website yang cepat dan mudah diakses akan memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik sehingga pengguna cenderung untuk mencari tahu dan menjelajah website lebih dalam.
2. Peringkat SEO yang Lebih Tinggi
Saat ini, mesin pencarian seperti Google menggunakan kecepatan website sebagai salah satu faktor yang menentukan peringkat SEO (Search Engine Optimization). Untuk itu, semakin cepat website maka peringkatnya juga semakin tinggi.
3. Meningkatkan Kepercayaan Pengguna
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap website (termasuk bisnis/organisasi yang diwakilinya) adalah kecepatan website. Dengan website yang cepat maka kesan pengguna akan jauh lebih baik dan membentuk persepsi yang kredibel.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menguji Kecepatan Website
Dalam menguji kecepatan website, tidak semua tools penguji akan menghasilkan hasil yang sama. Untuk itu, perlu memadukan hasil uji dari berbagai tools dan memahami metrik apa yang harus diperhatikan selama proses uji sehingga didapatkan hasil yang objektif. Berikut ini hal – hal yang harus diperhatikan saat melakukan uji kecepatan website.
1. Caching
Sebagian besar tools pengujian kecepatan website akan mengabaikan caching. Namun, sangat disarankan untuk melakukan uji website dalam kondisi caching aktif dan non aktif untuk melihat perbedaannya.
2. Lokasi
Faktor lokasi perlu dipertimbangkan saat menguji kecepatan website. Pengguna yang mengakses website dari daerah/negara yang berbeda akan mengalami perbedaan waktu loading bergantung dengan jaringan dan servernya.
3. Menjalankan Berbagai Tes Sekaligus
Untuk meningkatkan akurasi hasil uji kecepatan website, maka sangat disarankan untuk melakukan uji kecepatan website di beberapa tools karena di setiap pengujian dapat menghasilkan hasil uji yang berbeda bergantung dengan anomali website atau jaringan.
4. Metrics
Berikut ini beberapa metrics yang paling penting dan digunakan pengujian kecepatan website.
- Page Load Time
Page load time akan menghitung total waktu yang dibutuhkan untuk memuat sebuah halaman secara keseluruhan. Salah satu contohnya, dalam Google Analytics yang menyediakan laporan page load time untuk setiap URL, bahkan di berbagai browser yang berbeda.
- Time to First Byte
Time to First Byte akan mengukur waktu yang dibutuhkan browser untuk menerima permintaan HTML dari server. Jika skor TTFB rendah, maka mengindikasikan bahwa website memiliki banyak file berukuran besar dan perlu dipindahkan ke server yang lebih baik.
- Number of HTTP Request
Permintaan baru akan dikirim setiap kali halaman memuat sebuah file. Semakin banyak request maka akan semakin membebani kecepatan website. Terlalu banyak permintaan bisa memperlambat waktu muat, utamanya di jaringan lambat.
- Core Website Vitals
Core Web Vitals merupakan serangkaian metrics standar dari Google untuk mengukur kualitas pengalaman pengguna di sebuah website dari beberapa segi berikut ini.- Largest Contentful Paint (LCP): menilai kecepatan tampilan konten.
- First Input Delay (FID): menilai responsivitas interaksi pengguna.
- Cumulative Layout Shift (CLS): menilai stabilitas tata letak halaman.
BACA JUGA: Core Web Vitals: Pengertian, Tujuan, Indikator, dan Optimasi
- Field Vs Lab Data
Ketika mengukur kecepatan halaman, penting untuk mengetahui perbedaan antara field data dan lab data. Field data adalah data riil yang didapatkan berdasarkan riwayat waktu muat halaman dari pengguna sebenarnya.
Sementara itu, lab data adalah data hasil pengujian simulasi dalam kondisi tertentu. Lab data memberikan perkiraan waktu muat halaman berdasarkan skenario yang telah ditentukan.
Tools untuk Menguji Kecepatan Website
Untuk mengetahui kecepatan website Anda, berikut ini terdapat beberapa tools terbaik yang dapat Anda gunakan untuk menguji kecepatan website.
1. Google PageSpeed Insights
Google PageSpeed Insight adalah tools tidak berbayar yang didesain untuk mengetes kecepatan suatu halaman website. Tools ini bekerja dengan cara melakukan scanning pada halaman website, kemudian lab data akan dianalisis oleh Lighthouse dan menghasilkan skor kecepatan tertentu.
Google PageSpeed menyediakan metrics seperti Core Web Vitas, time to interactivity, dan general speed index. Untuk panduan lebih lengkap cara menggunakan Google PageSpeed Insights dapat dibaca pada artikel berikut: Cara Menggunakan Google Pagespeed Insights.

2. GTMetrix
GTMetrix adalah tools online yang dapat menganalisis performa website untuk membantu pengguna dalam memahami kecepatan dan efisiensi website. Ditambah lagi dengan dukungan Lighthouse yang mampu menghasilkan laporan kinerja secara menyeluruh disertai dengan beberapa tab, visual grafik, dan insight yang lebih mendalam.
GTMetrix menyediakan beberapa metrics, seperti Time to First Byte, Reduce Initial Server Response Time, First Contentful Paint, dan lainnya. Untuk detail panduan cara menggunakan GTMetrix dapat Anda baca pada artikel berikut: Cara Menggunakan GTmetrix.

3. Pingdom
Pingdom merupakan tools berbayar untuk mengetes kecepatan website yang mampu melakukan simulasi lab data sekaligus dengan field data secara langsung, sehingga dapat diketahui tingkat performa website di berbagai perangkat, jaringan, dan pengguna.
Keunggulan tools ini adalah mampu melakukan pemantauan kecepatan website secara real time melalui fitur Real User Monitoring.

4. WebPageTest
WebPageTest merupakan salah satu tools yang paling powerful untuk menguji kecepatan website. Tools ini tidak berbayar dan mampu menyediakan semua data uji yang sama seperti Lighthouse dengan tambahan kemampuan untuk melakukan pengujian di berbagai perangkat dan jaringan.
Tidak kalah penting, pengguna dapat melihat bagaimana sebuah website dimuat secara real time melalui tampilan Filmstrip View.

5. Google Search Console
Google Search Console merupakan tools gratis untuk memantau, mempertahankan, dan mengoptimalkan kinerja website di hasil pencarian Google. Salah satu fitur pada Google Search Console adalah Speed Report yang dapat Anda gunakan untuk melihat kecepatan halaman website secara lebih detail per halaman.
Laporan ini mencakup skor kecepatan untuk masing – masing halaman, juga secara keseluruhan di berbagai browser dan perangkat.

6. New Relic
New Relic merupakan tools canggih penguji kecepatan website yang memerlukan subscription untuk dapat memantau kecepatan halaman dari waktu ke waktu, melakukan debugging, hingga membersihkan plugin yang tidak efisien. Tools ini dapat dipasang pada aplikasi seluler Android, iOS, dan aplikasi server.

Cara Mengatasi Website yang Lambat
Memahami penyebab saja belum cukup, berikut adalah langkah-langkah optimasi yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi website yang lambat.
1. Mengaktifkan Web Compression
Web compression adalah proses mengompres file seperti HTML, CSS, dan JavaScript sebelum dikirimkan ke browser pengunjung. Dengan kompresi, ukuran file jadi lebih kecil sehingga waktu loading menjadi lebih cepat.
Cara paling umum adalah mengaktifkan Gzip atau Brotli compression di server hosting Anda. Pada layanan hosting Rumahweb, fitur ini telah diaktifkan secara default, sehingga Anda tidak perlu melakukan aktivasinya.
Informasi lebih lengkap tentang apa itu web compression bisa Anda pelajari disini.
2. Mengaktifkan Caching
Caching adalah teknik menyimpan salinan data website di server atau browser, sehingga pengunjung tidak perlu memuat ulang semua file setiap kali mengakses halaman.
Anda bisa mengaktifkan caching melalui plugin (misalnya LiteSpeed Cache, WP Rocket, W3 Total Cache, atau WP Super Cache untuk WordPress), atau memanfaatkan fitur cache bawaan dari server. Anda bisa memilih salah satu plugin sesuai dengan spesifikasi hosting yang Anda gunakan.
- Litespeed Cache (Direkomendasikan untuk pengguna web accelerator)
- W3 Total Cache
- Plugin WP Super Cache
- WP Rocket
Di hosting Rumahweb dengan Web Accelerator, kami telah mengaktifkan Litespeed cache bawaan yang efektif mempercepat loading website.
3. Lazy Loading
Teknik lazy loading dilakukan dengan menunda pemuatan file hingga benar-benar dibutuhkan. Artinya, tidak semua konten dimuat sekaligus di awal, tetapi browser hanya memuat sumber daya yang berinteraksi dengan pengguna saat elemen tersebut terlihat di area layar.
Di WordPress, Anda bisa mengaktifkan lazy loading melalui plugin seperti a3 Lazy Load, atau memanfaatkan fitur bawaan WordPress (versi terbaru sudah mendukung lazy loading otomatis untuk gambar).
Selain itu, plugin cache bawaan yang kami sebutkan di atas biasanya juga sudah dilengkapi dengan fitur lazy load. Jadi, Anda bisa langsung mengaktifkan fitur tersebut melalui plugin cache yang Anda gunakan.
4. Menggunakan CDN
CDN (Content Delivery Network) adalah jaringan server di berbagai lokasi yang menyimpan salinan file statis website Anda. CDN berfungsi untuk mempercepat pengiriman data dengan menampilkan file dari server yang terdekat dengan lokasi pengunjung. Misalnya, pengunjung dari Singapura akan mendapatkan file dari server CDN terdekat di Asia, sehingga waktu loading menjadi lebih singkat.
Salah satu penyedia CDN gratis yang dapat Anda gunakan adalah CloudFlare atau BunnyCDN.Bagi Anda yang ingin menggunakan CDN, panduan cara setting domain ke CloudFlare hingga penggunaannya bisa Anda pelajari di artikel berikut: Cara Setting Domain di Cloudflare
5. Mengurangi Page Load
Salah satu penyebab website lambat adalah ukuran halaman (page size) yang terlalu besar. Solusinya:
- Optimasi CSS dan JavaScript dengan teknik minify atau combine.
- Kompres gambar menggunakan format modern seperti WebP.
- Hapus file yang tidak diperlukan.
Anda bisa menggunakan tools seperti GTmetrix atau PageSpeed Insights untuk melihat file apa saja yang memperlambat loading. Alternatif lainnya, Anda juga bisa menggunakan fitur Inspect Element di browser, untuk melihat pada load secara lebih rinci.
Berikut adalah cara menggunakan inspect element di browser.
- Buka halaman website atau domain yang akan Anda test.
- Klik kanan, pilih inspect.
- Klik tab Network, centang opsi disable cache, lalu refresh halaman tersebut di browser.
- Tunggu proses loading website Anda, lalu lihat hasil resources dan waktu loadingnya. Berikut contoh salah satu halaman Rumahweb yang kami test.

Dari screenshot diatas, diketahui bahwa page load halaman tersebut berkisar sekitar 10MB dengan waktu muat sekitar 8 detik. Anda bisa klik submenu Size untuk melihat ukuran file yang dimuat dari yang terbesar sampai yang terkecil, lalu lakukan optimasi.
6. Mengurangi Plugin dan Kode yang Tidak Diperlukan
Terlalu banyak plugin atau kode tambahan bisa membebani server dan memperlambat website. Gunakan hanya plugin yang benar-benar dibutuhkan, dan hapus yang tidak digunakan.
Jika menggunakan WordPress, pastikan plugin yang dipakai sudah teruji, ringan, dan memiliki review baik.
7. Optimasi Query Database
Database yang berantakan atau memiliki query lambat bisa membuat website terasa berat, terutama untuk CMS seperti WordPress. Gunakan plugin seperti WP-Optimize untuk membersihkan database secara rutin.
Jika menggunakan VPS atau Cloud Hosting di Rumahweb, Anda juga bisa mengoptimalkan database melalui phpMyAdmin dengan fitur Optimize Table.
Selengkapnya tentang optimasi query database bisa Anda pelajari di artikel berikut.
8. Memperbarui CMS, Plugin, dan Tema ke Versi Terbaru
Update versi CMS, plugin, dan tema tidak hanya meningkatkan keamanan, tetapi juga memperbaiki bug dan optimasi performa. Pastikan melakukan backup sebelum update untuk menghindari masalah kompatibilitas.
9. Memanfaatkan Prefetch, Preconnect, dan Preload
Teknik ini membantu browser memuat resource tertentu lebih cepat.
- Prefetch: memuat file yang kemungkinan dibutuhkan di halaman berikutnya.
- Preconnect: membuat koneksi awal ke domain eksternal sebelum resource diambil.
- Preload: memuat file penting lebih awal, seperti font atau CSS utama.
Pengguna WordPress bisa menambahkan teknik ini melalui plugin optimasi kecepatan seperti Plugin Perfmatters atau WP Rocket.
10. Menggunakan Web Accelerator
Web Accelerator adalah fitur yang berfungsi mempercepat akses website dengan cara mengurangi latensi dan mengoptimalkan transfer data melalui mekanisme caching. Hasilnya, halaman website dapat dimuat lebih cepat dan responsif.
Di Rumahweb, paket hosting tertentu sudah dilengkapi dengan fitur Web Accelerator bawaan atau Anda dapat menambahkan fitur web accelerator by request. Fitur ini menggabungkan litespeed cache, optimasi gambar, dan minifikasi file secara otomatis, sehingga website Anda bisa lebih cepat tanpa perlu pengaturan yang rumit.
Anda bisa menghubungi support kami melalui livechat atau tiket untuk menanyakan, apakah hosting yang Anda beli telah support dengan web accelerator atau belum.
Penutup
Dengan menerapkan berbagai teknik optimasi, termasuk memanfaatkan Web Accelerator, performa website Anda bisa meningkat signifikan dan memberikan pengalaman terbaik bagi pengunjung. Jika ingin lebih praktis, Anda bisa memilih paket hosting Rumahweb yang sudah dilengkapi LiteSpeed Web Server dengan fitur Web Accelerator bawaan.
Tanpa setting yang rumit, website Anda bisa lebih cepat, responsif, dan siap bersaing. Temukan paket hosting terbaik untuk kebutuhan Anda di Rumahweb dan rasakan perbedaannya.
Demikian artikel kami tentang cara cek dan mengatasi website lambat agar menjadi lebih kencang, semoga bermanfaat.


