Masih menemukan rekomendasi untuk memasang Google AMP agar website lebih cepat diakses dan mendapat peringkat lebih baik di Google? Sebelum mengikutinya, penting untuk memahami bahwa Google AMP adalah teknologi yang dulu banyak digunakan untuk meningkatkan kecepatan halaman website di perangkat mobile, tetapi perannya dalam SEO telah berubah dalam beberapa tahun terakhir.
Google AMP sempat menjadi teknologi populer karena menawarkan cara untuk menyajikan halaman web dengan waktu muat yang lebih cepat, terutama pada perangkat mobile. Namun, perkembangan teknologi web dan perubahan sistem penilaian Google membuat penggunaan AMP tidak lagi menjadi persyaratan khusus untuk mendapatkan performa SEO yang baik.
Lalu, apa sebenarnya Google AMP dan bagaimana perkembangannya saat ini? Pada artikel ini, kami akan membahas pengertian Google AMP, cara kerjanya, sejarah singkat, serta kondisi dan relevansinya untuk optimasi website saat ini.
Ringkasan Cepat
- Google AMP adalah framework HTML terbatas yang dulu dipakai untuk mempercepat tampilan halaman di perangkat mobile.
- Sejak Juni 2021, Google menghapus AMP sebagai syarat tampil di Top Stories, dan lencana khusus AMP di hasil pencarian juga sudah dihapus.
- Saat ini, ranking pencarian ditentukan oleh Core Web Vitals pada halaman HTML standar, bukan lagi format AMP.
- AMP masih “hidup” secara teknis, tapi sudah ditinggalkan mayoritas publisher besar dan tidak lagi direkomendasikan untuk website baru.
- Satu pengecualian, AMP for Email masih dipakai secara aktif untuk email interaktif seperti di Gmail.
Apa Itu Google AMP?
Google AMP, singkatan dari Accelerated Mobile Pages, adalah framework HTML dengan batasan khusus yang dirancang Google untuk membuat halaman website dimuat hampir instan di perangkat mobile. Caranya dengan membatasi penggunaan JavaScript milik pengembang, membatasi CSS inline, dan menyajikan halaman lewat cache milik Google sendiri.
Secara sederhana, AMP bekerja dengan mengonversi konten menjadi versi HTML yang jauh lebih ringan, mirip halaman statis, lalu disimpan sebagai cache oleh Google. Saat pengunjung mengakses halaman tersebut lewat pencarian, Google langsung menyajikan versi cache ini, sehingga aksesnya terasa sangat cepat.
Sejarah Singkat Google AMP
Google memperkenalkan AMP pada 2016 sebagai jawaban atas masalah halaman mobile yang saat itu sering lambat dan penuh iklan, terutama di website media dan publisher berita. Sebagai insentif, Google memberikan lencana khusus di hasil pencarian dan akses eksklusif ke karusel Top Stories bagi halaman yang memakai AMP.
Situasi mulai berubah pada 2020, saat Google mengumumkan Page Experience Update yang memperkenalkan Core Web Vitals sebagai metrik pengukuran kecepatan dan pengalaman halaman yang baru. Puncaknya terjadi pada Juni 2021, ketika Google resmi menghapus AMP sebagai syarat wajib untuk tampil di Top Stories. Lencana khusus AMP di hasil pencarian bahkan sudah dihapus lebih dulu sebelum perubahan ini.
Cara Kerja Google AMP
Google AMP bekerja dengan menggunakan format AMP HTML yang memiliki aturan dan pembatasan tertentu pada HTML, CSS, serta JavaScript. Tujuannya adalah membuat halaman lebih ringan dan mengatur proses pemuatan resource agar dapat ditampilkan lebih cepat, terutama pada perangkat mobile.

AMP juga dapat memanfaatkan AMP Cache, seperti Google AMP Cache, untuk menyimpan dan menyajikan halaman AMP melalui jaringan cache. Dengan begitu, ketika halaman tersedia di cache, resource dapat disajikan lebih dekat dengan pengguna sehingga waktu akses dapat menjadi lebih cepat.
Secara sederhana, AMP mengoptimalkan struktur dan pemuatan halaman, kemudian dapat menyajikannya melalui AMP Cache untuk meningkatkan kecepatan akses.
Apakah Google AMP Masih Berpengaruh terhadap SEO di 2026?
Jawaban singkatnya, tidak. Sejak perubahan pada 2021 tadi, Google menegaskan bahwa ranking pencarian ditentukan oleh Core Web Vitals, yaitu LCP, INP, dan CLS, yang berlaku sama untuk semua halaman, baik memakai AMP maupun HTML biasa. AMP sendiri tidak lagi memberikan keuntungan peringkat tambahan apa pun.
Artinya, halaman HTML standar yang dioptimasi dengan baik bisa memiliki peringkat yang sama, bahkan lebih baik, dibanding halaman versi AMP. AMP Project sendiri nyaris tidak menerima pembaruan berarti sejak 2023, dan posisi resmi Google saat ini adalah AMP “masih didukung”, tapi tidak lagi direkomendasikan atau dibutuhkan untuk fitur pencarian apa pun.
Kenapa Banyak Website Meninggalkan AMP?
Selain kehilangan manfaat SEO, ada beberapa alasan praktis yang membuat mayoritas publisher besar seperti Washington Post, CNBC, dan Vox Media memilih meninggalkan AMP.
- Kontrol developer yang terbatas, karena AMP membatasi penggunaan JavaScript kustom dan elemen interaktif tertentu.
- Duplikasi maintenance, karena website harus mengelola dua versi halaman sekaligus, versi biasa dan versi AMP.
- URL memakai domain Google, sehingga pengunjung yang mengakses versi cache AMP tidak benar-benar berada di domain website Anda, yang berpotensi memengaruhi branding.
- Potensi menghambat pengalaman pengguna, karena batasan desain dan fungsionalitas AMP membuat sebagian fitur modern website sulit diterapkan.
Apa Pengganti AMP Saat Ini?
Fokus optimasi kecepatan sekarang sepenuhnya beralih ke Core Web Vitals pada halaman HTML standar, tanpa perlu membuat versi halaman terpisah seperti AMP. Beberapa langkah yang bisa Anda lakukan antara lain mengoptimasi ukuran gambar, memanfaatkan caching lewat CDN modern, meminimalkan skrip yang tidak perlu, dan memilih hosting dengan performa server yang memadai.
Pendekatan ini lebih efisien dibanding AMP, karena Anda hanya perlu mengelola satu versi halaman yang sama-sama cepat diakses lewat desktop maupun mobile, tanpa kompromi pada kontrol developer dan pengalaman branding.
Apakah AMP Masih Digunakan untuk Sesuatu?
Meski AMP untuk halaman website sudah ditinggalkan, ada satu varian yang masih aktif digunakan, yaitu AMP for Email. Teknologi ini memungkinkan email interaktif, misalnya mengisi formulir atau melakukan aksi tertentu langsung di dalam aplikasi email seperti Gmail, tanpa perlu membuka website terpisah.
Jadi, kalau Anda menemukan istilah AMP di konteks email marketing, itu konteks yang berbeda dari AMP untuk halaman website yang dibahas di artikel ini.
Google AMP dan Perubahan Era Pencarian Berbasis AI
Pergeseran fokus Google tidak berhenti di Core Web Vitals saja. Di era pencarian berbasis AI seperti sekarang, lewat AI Overview dan AI Mode, penilaian Google jauh lebih menitikberatkan pada kualitas dan kejelasan konten yang mudah diekstrak dan dikutip AI, bukan lagi soal format teknis halaman seperti AMP.
Ironisnya, batasan ketat pada AMP, seperti minimnya elemen interaktif dan skrip kustom, justru kurang menguntungkan untuk kebutuhan konten era AI yang kadang butuh structured data atau elemen kaya konten lainnya. Kecepatan tetap jadi faktor penting, tapi jalannya sudah berubah total, dari format eksklusif seperti AMP menjadi standar universal lewat Core Web Vitals di HTML biasa.
Cara Menghapus AMP dari WordPress dengan Aman
Kalau website Anda masih memakai AMP dan ingin menghapusnya, berikut langkah dasar yang perlu diperhatikan agar performa SEO Anda tidak terganggu.
- Nonaktifkan plugin AMP yang terpasang di WordPress Anda.
- Buat pengalihan (redirect) 301 dari seluruh URL berformat
/amp/menuju versi halaman kanonik yang sama. - Pastikan versi halaman kanonik sudah memenuhi standar Core Web Vitals sebelum AMP benar-benar dihapus.
- Pantau performa lewat Google Search Console selama beberapa minggu setelah penghapusan, untuk memastikan tidak ada penurunan impression atau klik yang signifikan.
FAQ
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum tentang Google AMP.
Apakah Google AMP masih dibutuhkan untuk SEO di 2026?
Tidak. Sejak 2021, Google sudah menghapus AMP sebagai syarat ranking maupun tampil di Top Stories. Ranking sekarang ditentukan oleh Core Web Vitals yang berlaku sama di halaman HTML standar.
Apakah website tanpa AMP bisa tetap cepat diakses?
Bisa, bahkan lebih baik. Dengan optimasi Core Web Vitals lewat kompresi gambar, caching, dan hosting yang memadai, halaman HTML standar bisa sama cepatnya dengan AMP, tanpa kompromi pada kontrol developer.
Apakah website yang masih memakai AMP akan terkena penalti Google?
Tidak ada penalti langsung. AMP masih “didukung” secara teknis, tapi tidak lagi memberi keuntungan ranking apa pun, sehingga mempertahankannya sekadar menambah beban maintenance tanpa manfaat SEO yang berarti.
Apakah AMP masih dipakai untuk hal lain selain website?
Ya, AMP for Email masih aktif digunakan untuk email interaktif, misalnya di Gmail, meski konteksnya berbeda dari AMP untuk halaman website.
Apakah menghapus AMP berisiko menurunkan traffic website?
Risikonya kecil selama dilakukan dengan benar, yaitu memakai redirect 301 dari URL AMP ke versi kanonik, dan memastikan versi kanonik tersebut sudah cepat dan memenuhi standar Core Web Vitals sebelum AMP dihapus sepenuhnya.
Kesimpulan
Google AMP adalah teknologi yang dulu sempat jadi standar optimasi kecepatan mobile, tapi statusnya sudah banyak berubah sejak Google menghapus AMP sebagai syarat ranking pada 2021. Saat ini, fokus optimasi kecepatan sepenuhnya beralih ke Core Web Vitals pada halaman HTML standar, yang justru lebih efisien karena tidak membutuhkan pengelolaan dua versi halaman sekaligus.
Kalau Anda ingin memastikan website tetap cepat tanpa perlu bergantung pada AMP, fondasi hosting yang tepat jadi kunci utamanya. Rumahweb menyediakan layanan WordPress Hosting dengan performa server yang mendukung pencapaian skor Core Web Vitals yang baik, sehingga website Anda tetap kompetitif di hasil pencarian tanpa perlu mengandalkan teknologi Google AMP yang sudah mulai ditinggalkan.


