{"id":63025,"date":"2026-04-20T09:17:34","date_gmt":"2026-04-20T02:17:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/?p=63025"},"modified":"2026-04-20T09:17:35","modified_gmt":"2026-04-20T02:17:35","slug":"laravel-vs-symfony","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/laravel-vs-symfony\/","title":{"rendered":"Laravel vs Symfony: Mana Pilihan Terbaik untuk Anda?"},"content":{"rendered":"\n<p>Sudah berjam-jam membaca artikel tentang <em>framework <\/em>PHP tapi masih bingung harus pilih yang mana? Kamu tidak sendirian. Perbandingan Laravel vs Symfony adalah salah satu debat paling panas di komunitas <em>developer <\/em>PHP, dan salah memilih di awal bisa berarti kerja dua kali di tengah proyek.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya, kebanyakan artikel hanya mendaftar fitur tanpa benar-benar menjawab pertanyaan yang paling sering muncul di kepala: <em>framework <\/em>mana yang cocok untuk situasiku sekarang?<\/p>\n\n\n\n<p>Di artikel ini, kamu tidak akan menemukan jawaban yang mengambang. Kami akan membedah perbedaan Laravel vs Symfony secara jujur dan praktis, mulai dari filosofi, performa, kelebihan dan kekurangan, hingga panduan konkret memilih yang tidak akan kamu sesali enam bulan ke depan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Laravel dan Symfony?<\/h2>\n\n\n\n<p>Laravel dan Symfony sama-sama merupakan <em><a href=\"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/framework-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"framework adalah\">framework<\/a> <\/em>PHP berbasis pola arsitektur MVC (<em>Model-View-Controller<\/em>) dan bersifat <em>open-source<\/em>. Keduanya gratis digunakan dan sudah dipakai jutaan <em>developer <\/em>di seluruh dunia, tapi lahir dari visi yang cukup berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/symfony-framework-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">Symfony<\/a> lebih dulu hadir, dirilis pada tahun 2005 oleh SensioLabs. <em>Framework <\/em>ini dibangun dengan fokus pada standarisasi komponen yang bisa digunakan secara mandiri dan terpisah. Pengaruhnya sangat besar di ekosistem PHP, sampai-sampai <em>framework <\/em>lain pun ikut memakainya sebagai fondasi.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/laravel-adalah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"laravel adalah\">Laravel<\/a> muncul pada tahun 2011 dan langsung mencuri perhatian karena sintaksnya yang jauh lebih elegan dan mudah dibaca. Menariknya, Laravel sendiri dibangun di atas banyak komponen inti Symfony. Jadi alih-alih benar-benar bersaing, keduanya justru saling melengkapi dalam ekosistem PHP modern.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Filosofi dan Cara Kerja Laravel vs Symfony<\/h2>\n\n\n\n<p>Memahami filosofi masing-masing <em>framework <\/em>jauh lebih penting daripada sekadar membandingkan fiturnya, karena filosofi inilah yang menentukan bagaimana kamu dan tim akan bekerja sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Laravel dibangun dengan satu tujuan utama yaitu membuat developer senang bekerja. Segala sesuatunya dirancang agar mudah dipelajari dan cepat digunakan. Fitur-fitur seperti sistem autentikasi, <em>routing<\/em>, <em>templating engine Blade<\/em>, hingga Eloquent ORM untuk manajemen database sudah tersedia langsung tanpa perlu konfigurasi yang rumit. <\/p>\n\n\n\n<p>Symfony punya pendekatan yang berbeda. <em>Framework <\/em>ini dibangun dengan filosofi ketat dan modular, terdiri dari banyak komponen independen yang disebut Bundles. Kalau kamu hanya butuh komponen routing tanpa keseluruhan <em>framework<\/em>, kamu bisa mengambilnya saja. <\/p>\n\n\n\n<p>Arsitektur Symfony sangat mengandalkan pola <em>Dependency Injection<\/em> yang menghasilkan kode terstruktur dan mudah diuji, tapi kurva belajarnya memang lebih curam dibanding Laravel.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Perbandingan Laravel vs Symfony Secara Ringkas<\/h2>\n\n\n\n<p>Sebelum masuk lebih dalam, tabel berikut bisa membantu kamu melihat gambaran besarnya sekaligus.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><thead><tr><th>Aspek<\/th><th>Laravel<\/th><th>Symfony<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td>Tahun Rilis<\/td><td>2011<\/td><td>2005<\/td><\/tr><tr><td>Filosofi<\/td><td>Developer Happiness<\/td><td>Standarisasi dan Modularitas<\/td><\/tr><tr><td>Kemudahan Belajar<\/td><td>Mudah, cocok untuk pemula<\/td><td>Butuh keahlian teknis lebih tinggi<\/td><\/tr><tr><td>Kecepatan Development<\/td><td>Sangat cepat (RAD)<\/td><td>Lebih lama di awal<\/td><\/tr><tr><td>Performa<\/td><td>Baik, didukung Octane<\/td><td>Sangat baik dengan kontrol penuh<\/td><\/tr><tr><td>Skalabilitas<\/td><td>Baik, ekosistem cloud-ready<\/td><td>Sangat baik untuk level enterprise<\/td><\/tr><tr><td>Cocok Untuk<\/td><td>Startup, MVP, e-commerce<\/td><td>Sistem perbankan, enterprise besar<\/td><\/tr><tr><td>Komunitas<\/td><td>Sangat besar dan aktif<\/td><td>Profesional dan korporat<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kelebihan dan Kekurangan Laravel<\/h2>\n\n\n\n<p>Laravel unggul dalam hal kecepatan pengembangan. Pendekatan <em>Rapid Application Development<\/em> (RAD) yang diadopsinya memungkinkan tim untuk membangun fitur dengan sangat cepat. Sintaksnya ekspresif dan mudah dibaca bahkan oleh <em>developer <\/em>yang baru bergabung ke tim. Eloquent ORM membuat pengelolaan database terasa intuitif karena kamu bisa berinteraksi dengan data tanpa perlu menulis <em>query <\/em>SQL secara manual.<\/p>\n\n\n\n<p>Ekosistemnya juga luar biasa lengkap. Laracasts menyediakan ribuan tutorial video berkualitas tinggi, Laravel Forge memudahkan manajemen server, dan ada ribuan package siap pakai yang bisa langsung diintegrasikan. Komunitas Laravel sangat besar dan responsif, sehingga solusi atas masalah yang kamu hadapi biasanya sudah tersedia di forum atau Stack Overflow.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, Laravel cenderung lebih berat karena memuat banyak fitur secara otomatis meski tidak semuanya kamu butuhkan. Selain itu, pembaruan versi mayor yang cukup sering terkadang membutuhkan penyesuaian kode yang tidak sedikit.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kelebihan dan Kekurangan Symfony<\/h2>\n\n\n\n<p>Kekuatan terbesar Symfony adalah stabilitasnya yang sangat bisa diandalkan untuk jangka panjang. Framework ini ideal untuk proyek yang dirancang bertahan lebih dari 5 sampai 10 tahun tanpa perubahan arsitektur besar. <\/p>\n\n\n\n<p>Karena sifatnya yang modular, performa bisa dioptimalkan secara sangat spesifik sesuai kebutuhan. Symfony juga mematuhi standar interoperabilitas PHP secara ketat, yang membuatnya menjadi pilihan utama perusahaan teknologi besar di seluruh dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sertifikasi resmi Symfony pun diakui secara global dan sering menjadi nilai tambah yang signifikan bagi developer yang ingin berkarier di perusahaan teknologi tingkat tinggi atau mengerjakan proyek internasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Kekurangannya, waktu pengembangan di awal terasa lebih lama karena banyaknya konfigurasi yang perlu disiapkan. Symfony juga membutuhkan keahlian teknis yang lebih tinggi, sehingga kurang cocok bagi pemula yang baru mulai belajar framework PHP.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Performa dan Skalabilitas<\/h2>\n\n\n\n<p>Dalam hal performa murni, Symfony sering kali lebih unggul. Developer punya kontrol penuh atas komponen yang dimuat ke dalam memori server, sehingga penggunaan sumber daya bisa ditekan seminimal mungkin. Ini menjadikan Symfony pilihan yang sangat kuat untuk proyek enterprise yang harus menangani jutaan permintaan setiap harinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Laravel tidak kalah jauh. Meskipun secara bawaan sedikit lebih berat, kehadiran Laravel Octane mampu meningkatkan performa secara drastis di lingkungan server modern. Untuk kebutuhan skalabilitas, dukungan ekosistem cloud-ready Laravel sudah sangat matang dan terbukti mampu menopang aplikasi berskala besar.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kapan Harus Memilih Laravel dan Kapan Memilih Symfony?<\/h2>\n\n\n\n<p>Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya bergantung pada konteks proyekmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Laravel adalah pilihan yang tepat kalau kamu sedang membangun MVP dengan tenggat waktu yang mepet, mengerjakan startup atau toko <em>e-commerce<\/em>, tim kamu kebanyakan terdiri dari developer junior atau menengah, atau kecepatan rilis fitur adalah prioritas utama. Laravel memungkinkan kamu bergerak cepat tanpa terlalu banyak setup di awal.<\/p>\n\n\n\n<p>Symfony lebih cocok kalau kamu membangun sistem yang kompleks seperti aplikasi perbankan, platform ERP, atau infrastruktur enterprise yang dirancang untuk bertahan puluhan tahun. Kalau tim kamu terdiri dari <em>developer <\/em>senior yang sudah terbiasa dengan konsep <em>Dependency Injection<\/em> dan stabilitas arsitektur jangka panjang adalah prioritas, Symfony adalah pilihan yang lebih bijak.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Komunitas dan Ekosistem<\/h2>\n\n\n\n<p>Komunitas Laravel tumbuh sangat pesat dan terkenal ramah, terutama bagi developer yang baru belajar. Laracasts, forum resmi, dan ribuan konten di YouTube menjadikan proses belajar Laravel terasa jauh lebih mudah. Kamu hampir selalu bisa menemukan jawaban atas masalah yang kamu hadapi hanya dengan satu kali pencarian.<\/p>\n\n\n\n<p>Komunitas Symfony lebih fokus ke kalangan profesional dan perusahaan teknologi besar. Meski tidak sebesar komunitas Laravel dalam hal jumlah, kualitas diskusi dan dokumentasinya sangat tinggi. Bagi developer yang ingin membangun reputasi profesional di pasar internasional, menguasai Symfony bisa menjadi keunggulan tersendiri.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Tips Deployment untuk Laravel dan Symfony<\/h2>\n\n\n\n<p>Setelah memilih framework yang sesuai, ada beberapa hal teknis yang perlu kamu siapkan sebelum aplikasi naik ke server produksi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pastikan kamu menggunakan PHP versi terbaru, minimal 8.1, untuk mendapatkan performa dan keamanan yang optimal. Composer juga harus terinstal dengan benar karena ini adalah alat utama untuk mengelola semua dependensi di kedua framework.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum deploy, jalankan <code>php artisan config:cache<\/code> untuk Laravel atau <code>php bin\/console cache:clear --env=prod<\/code> untuk Symfony agar konfigurasi sudah terkompilasi dengan baik di lingkungan produksi.<\/p>\n\n\n\n<p>Soal pilihan hosting, kedua <em>framework <\/em>ini membutuhkan akses SSH dan manajemen memori yang memadai. <span style=\"text-decoration: underline;\">VPS jauh lebih disarankan dibanding shared hosting<\/span> karena memberikan kebebasan penuh untuk mengatur <em>environment <\/em>server sesuai kebutuhan aplikasimu.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">FAQ<\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut adalah beberapa pertanyaan popular tentang perbandingan Laravel vs Symfony.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group has-background\" style=\"background-color:#e9e9e9\"><div class=\"wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained\">\n<div style=\"height:10px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<details class=\"wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow\" style=\"font-style:normal;font-weight:700\"><summary>Mana yang lebih mudah dipelajari pemula, Laravel atau Symfony?<\/summary>\n<div style=\"height:5px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p style=\"font-style:normal;font-weight:400\">Laravel jauh lebih mudah untuk pemula. Dokumentasinya sangat lengkap, alur kerjanya lebih otomatis, dan tersedia banyak sumber belajar gratis seperti Laracasts. Symfony membutuhkan pemahaman konsep teknis yang lebih mendalam sebelum bisa digunakan secara efektif.<\/p>\n<\/details>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide\"\/>\n\n\n\n<details class=\"wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow\" style=\"font-style:normal;font-weight:700\"><summary>Apakah benar Laravel menggunakan komponen Symfony?<\/summary>\n<div style=\"height:5px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p style=\"font-style:normal;font-weight:400\">Ya, benar. Laravel menggunakan sekitar 30% komponen inti Symfony seperti HttpFoundation, Console, dan Routing. Fakta ini sekaligus membuktikan bahwa keduanya lebih saling melengkapi daripada sekadar bersaing.<\/p>\n<\/details>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide\"\/>\n\n\n\n<details class=\"wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow\" style=\"font-style:normal;font-weight:700\"><summary>Mana yang lebih aman, Laravel atau Symfony?<\/summary>\n<div style=\"height:5px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p style=\"font-style:normal;font-weight:400\">Keduanya sudah dilengkapi fitur keamanan bawaan untuk menangkal serangan umum seperti CSRF, XSS, dan SQL Injection. Tingkat keamanan akhir tetap sangat bergantung pada bagaimana developer menulis dan mengelola kode aplikasinya.<\/p>\n<\/details>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide\"\/>\n\n\n\n<details class=\"wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow\" style=\"font-style:normal;font-weight:700\"><summary>Apakah Laravel cocok untuk proyek skala besar?<\/summary>\n<div style=\"height:5px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p style=\"font-style:normal;font-weight:400\">Sangat bisa. Laravel mendukung skalabilitas dengan baik, terutama dengan kehadiran Laravel Octane dan ekosistem cloud-ready yang sudah matang. Banyak aplikasi berskala besar termasuk platform e-commerce dan SaaS sudah berjalan di atas Laravel.<\/p>\n<\/details>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide\"\/>\n\n\n\n<details class=\"wp-block-details is-layout-flow wp-block-details-is-layout-flow\" style=\"font-style:normal;font-weight:700\"><summary>Apa perbedaan Eloquent ORM di Laravel dengan Doctrine ORM di Symfony?<\/summary>\n<div style=\"height:5px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n\n\n\n<p style=\"font-style:normal;font-weight:400\">Eloquent menggunakan pola Active Record yang lebih intuitif dan mudah dipahami pemula. Doctrine menggunakan pola Data Mapper yang lebih fleksibel dan direkomendasikan untuk sistem dengan logika bisnis yang sangat kompleks.<\/p>\n<\/details>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide\"\/>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<script type=\"application\/ld+json\">\n{\n  \"@context\": \"https:\/\/schema.org\",\n  \"@type\": \"FAQPage\",\n  \"mainEntity\": [\n    {\n      \"@type\": \"Question\",\n      \"name\": \"Mana yang lebih mudah dipelajari pemula, Laravel atau Symfony?\",\n      \"acceptedAnswer\": {\n        \"@type\": \"Answer\",\n        \"text\": \"Laravel jauh lebih mudah dipelajari pemula. Dokumentasinya lengkap, alur kerjanya otomatis, dan tersedia banyak tutorial gratis seperti di Laracasts. Symfony membutuhkan pemahaman konsep teknis yang lebih dalam sebelum bisa digunakan secara efektif.\"\n      }\n    },\n    {\n      \"@type\": \"Question\",\n      \"name\": \"Apakah benar Laravel menggunakan komponen Symfony?\",\n      \"acceptedAnswer\": {\n        \"@type\": \"Answer\",\n        \"text\": \"Ya, benar. Laravel menggunakan sekitar 30% komponen inti Symfony, seperti HttpFoundation, Console, dan Routing. Ini membuktikan bahwa keduanya saling melengkapi dalam ekosistem PHP modern.\"\n      }\n    },\n    {\n      \"@type\": \"Question\",\n      \"name\": \"Mana yang lebih aman, Laravel atau Symfony?\",\n      \"acceptedAnswer\": {\n        \"@type\": \"Answer\",\n        \"text\": \"Keduanya sudah dilengkapi fitur keamanan bawaan untuk menangkal serangan umum seperti CSRF, XSS, dan SQL Injection. Tingkat keamanan akhir tetap bergantung pada cara developer menulis dan mengelola kode aplikasinya.\"\n      }\n    },\n    {\n      \"@type\": \"Question\",\n      \"name\": \"Apakah Laravel cocok untuk proyek skala besar?\",\n      \"acceptedAnswer\": {\n        \"@type\": \"Answer\",\n        \"text\": \"Bisa. Laravel mendukung skalabilitas dengan baik, terutama dengan dukungan Laravel Octane dan ekosistem cloud-ready yang matang. Banyak aplikasi skala besar sudah berjalan di atas Laravel, termasuk berbagai platform e-commerce dan SaaS.\"\n      }\n    },\n    {\n      \"@type\": \"Question\",\n      \"name\": \"Apa perbedaan utama Eloquent ORM di Laravel dengan Doctrine ORM di Symfony?\",\n      \"acceptedAnswer\": {\n        \"@type\": \"Answer\",\n        \"text\": \"Eloquent (Laravel) menggunakan pola Active Record yang lebih intuitif dan cocok untuk pemula. Doctrine (Symfony) menggunakan pola Data Mapper yang lebih fleksibel dan direkomendasikan untuk sistem dengan logika bisnis yang sangat kompleks.\"\n      }\n    }\n  ]\n}\n\n<\/script>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p>Dari perbandingan Laravel vs Symfony di atas, tidak ada pemenang mutlak. Keduanya adalah <em>framework <\/em>PHP kelas dunia yang sudah terbukti andal, hanya saja dirancang untuk kebutuhan yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau kamu mengutamakan kecepatan dan kemudahan pengembangan, Laravel adalah jawabannya. Kalau kamu butuh struktur yang ketat, modularitas tinggi, dan stabilitas untuk sistem enterprise jangka panjang, Symfony adalah pilihan yang lebih tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang paling penting setelah keputusan <em>framework <\/em>adalah memastikan aplikasimu berjalan di atas infrastruktur yang andal. Layanan <strong><a href=\"https:\/\/www.rumahweb.com\/hosting-murah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">hosting<\/a><\/strong> dan <strong><a href=\"https:\/\/www.rumahweb.com\/vps-murah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" title=\"\">VPS<\/a><\/strong> dari Rumahweb Indonesia menyediakan lingkungan yang sudah dioptimasi untuk menjalankan Laravel maupun Symfony, lengkap dengan SSD <em>storage <\/em>dan <em>bandwidth <\/em>yang cepat agar aplikasimu bisa melayani pengguna dengan performa terbaik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudah berjam-jam membaca artikel tentang framework PHP tapi masih bingung harus pilih yang mana? Kamu tidak sendirian. Perbandingan Laravel vs Symfony adalah salah satu debat paling panas di komunitas developer PHP, dan salah memilih di awal bisa berarti kerja dua kali di tengah proyek. Masalahnya, kebanyakan artikel hanya mendaftar fitur tanpa benar-benar menjawab pertanyaan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":348,"featured_media":63541,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[7],"tags":[798,796,45,2599],"class_list":{"0":"post-63025","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-web-programming","8":"tag-framework","9":"tag-laravel","10":"tag-php","11":"tag-symfony"},"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/Banner-laravel-vs-Symfony.webp","jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/p8n3G7-gox","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63025","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/348"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=63025"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63025\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":63542,"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/63025\/revisions\/63542"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/63541"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=63025"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=63025"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rumahweb.com\/journal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=63025"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}